Bina Ukhuwah

Menjalin Kebersamaan Edisi 3 / 2011

Cover Majalah

Majalah "BINA UKHUWAH" terbit setiap bulan dalam upaya sosialisasi lembaga dan penokohan

Logo + Ketua Khoiru Ummah

Khoiru Ummah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam memberantas buta huruf Al Qur'an serta memfasilitasi upaya kaum muslimin dalam mentadaburi Al Qur'an

Logo + Ketua Ar Rahmah

Ar Rahmah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam dunia pendidikan. Sampai sekarang sudah mempunyai TK Islam Terpadu Ar Rahmah, SD Islam Terpadu Ar Rahmah dan SMP Islam Terpadu Ar Rahmah

Logo + Direktur DSUI

Griya Zakat LAZDA DSUI Pacitan adalah sebuah Lembaga Amil Zakat yang bergerak dalam bidang sosial. Siap memungut, mengelola dan mendistribusikan kepada yang berhak menerima.

Logo + Ketua BMT Tawakkal

BMT Tawakkal Pacitan adalah sebuah Koperasi Serba Usaha (KSU)Syari'ah yang bergerak dalam bidang ekonomi Syari'ah. Melayani Simpanan dan Pembiayaan Syari'ah serta Penerimaan, Pengelolaan dan Penyaluran ZISWAF.

Tampilkan postingan dengan label Asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asmara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

TA’RUF BUKAN PACARAN (Bagian Kedua)


Tahap ke tiga diatas adalah tahap kritis pertama. Karena bertemunya lawan jenis yang sejak awal berniat bertemu, sudah ada panah asmara dalam diri kedua belah pihak. Jika panah asmara yang sama-sama sudah berada di busur dengan tali lontarnya sudah kencang ini tidak diolah (dijaga) bisa jadi sang “anak panah” asmara terlontar liar salah sasaran. Karenanya kami me-manage forum ta’aruf ini dengan istilah pertemuan delapan mata. Masing-masing diri didampingi oleh seorang ustad/ustadzah dalam berdialog lepas diantara mereka berdua.
Dalam dialog terbimbing ini mereka dipersilahkan berbicara apa saja menyangkut penajaman dan akurasi data tertulis yang sudah dibaca waktu pemberian data calon suami ke calon isteri dan sebaliknya. Data itu sudah diterima minimal tujuh hari dari waktu ta’ruf, dengan tambahan tugas robbani bagi keduanya. Tugas robbani ini adalah sholat istiharah. Meski ibadah ini hukumnya sunah, tim kamar menganjurkan kepada kedua calon mempelai untuk mengintensifkan pelaksanaannya selama satu pekan penuh.
Penekanan sholat istiharah ini seakan disemiwajibkan semata-mata untuk membingkai proses ta’aruf ini, agar tetap dalam jalan lurus dan mengeliminasi unsur-unsur eksternal (pengaruh syaiton). Agar proses tarbawi ini tidak terkontaminasi oleh pengaruh syahwat syaitoniyah. Meski tidak dipungkiri bahwa jurus dan pintu masuk syaiton ke dalam diri manusia dalam menggoda bisa masuk melalui pintu apa saja, tetapi secara keilmuan dan bingkai sunnah kita sudah mengikhtiari untuk mencegahnya.
Tim sangat menyadari banyak sisi lemah dalam ta’aruf ini, apa lagi sekarang IT sudah sebegitu menggurita, menguasai jagat komunikasi dunia. Termasuk dunia asmara, akan tetapi ikhtiar manusiawi ini tetap kita perlukan untuk memastikan bahwa proses ini alami. Berjalan sesuai tahapan sang calon mempelai yang belum 100% pasti ini masih punya ruang dan waktu. Untuk berfikir dan bertindak serta mengambil keputusan dilandasi dengan ketulusan hati, keikhlasan menerima takdir dan kealamiah-an dalam menentukan pilihan untuk selanjutnya masing-masing mengomunikasikan seluruh proses hati dan jasadiyah ini kepada orang tua masing-masing. Nah pada tahapan ini tim mempersilakan mereka berdua untuk mempersiapkan diri pada tahapan ke empat, yaitu ta’aruf calon laki-laki kepada orang tua calon perempuan, dan proses ta’ruf fihak perempuan kepada orang tua laki-laki..
(bersambung edisi mendatang...)
*) Dewan Pembina Tim Kamar

Jumat, 06 Mei 2011

Ta’aruf Dengan Tim Kamar



oleh Subi M. Karto Raharjo*)
Dalam Edisi kemarin, kami sajikan  tulisan tentang “Keluarga Kunci Kesuksesan”. Dalam edisi kali ini kami tuliskan langkah-langkah dalam mewujudkan cita-cita itu. KAMAR sebagai lembaga mandiri, hadir untuk memfasilitasi upaya merealisasikannya. Berikut kami muat sekilas sebagai ta’aruf lebih dalam tentang kami.
Kamar yang merupakan kependekan dari Konsultan Munakahat (Pernikahan) Keluarga Ar Rahmah, berdiri tahun 1994. Kamar juga berarti tempat tidur bagi pemilik rumah yang biasanya terdiri dari beberapa buah dari sebuah rumah. Nah ... dalam kajian Asmara ini, penulis ingin berbagi cerita tentang Kamar yang di dalamnya penuh dengan nilai-nilai spiritual, kepragahan, totalitas dan romantisme.
Tentu tidak mungkin satu kali edisi, penulis bisa menyajikan seluruh nilai itu. Karenanya kita ambil sebagian nilai itu bisa jadi lebih menonjol jika dibandingkan dengan nilai lainnya. Atau bisa jadi saling beririsan.
Nilai spiritual dalam konteks munakahat di sini terekspresikan pada spirit religi dalam mengelola program keluarga yang dipersiapkan melalui pernikahan tarbawi. Hal mana calon mempelai berdua diproses (untuk menikah) melalui majlis atau tim munakahat dengan tahapan cukup panjang, berdasarkan syari’at dan insya Allah bebas khalwat.
Adapun tahapan proses Kamar melibatkan banyak unsur dengan peran masing-masing sesuai tahapannya. Sehingga apabila ada kegagalan dalam tahapan tertentu, tidak ada yang sangat dirugikan atau merasa ada yang didholimi. Ada  delapan tahapan yang mesti dilalui oleh setiap calon mempelai yang diperjodohkan oleh Tim Kamar.
1.   Tukar Identitas Diri, data perempuan diberikan kepada calon suami yang menyatakan siap menikah. Kemudian data calon suami yang sudah menerima data calon istri dan menyatakan setuju, diberikan kepada perempuan tersebut.
2.   Calon suami disilahkan melihat perempuan yang datanya diterima, tanpa sepengetahuan si perempuan. Jika tidak cocok, data kembali. Jika sudah cocok akan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
3.   Pertemuan delapan mata antara perempuan dan laki-laki masing-masing didampingi oleh mukhrim atau ustadz pendamping atau tim kamar.

(bersambung edisi mendatang...)
*) Dewan Pembina Tim Kamar

Sabtu, 16 April 2011

Keluarga Kunci Kesuksesan


disarikan oleh Team KAMAR*)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Negara yang baik dan sukses berawal dari masyarakat yang baik dan sukses pula. Manakala suatu masyarakat dikatakan baik dan sukses, pasti didalamnya berhimpun keluarga-keluarga yang baik dan sukses pula. Terlihat kecil, memang, sebuah keluarga. Tetapi begitu dahsyat dan penting perannya dalam mempengaruhi komunitas yang lebih besar, tidak terkecuali sebuah negara bahkan umat manusia.

Berbagai kejadian kita dengar bahkan lihat dengan mata kepala sendiri dalam masyarakat. Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di tempat kerja tapi akhirnya pudar oleh perilaku istri dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci. Sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, jangan sampai kita tertipu!
Ada banyak sebab kegagalan seseorang diantaranya :
  • Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan pekerjaan, urusan yang diluar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
  • Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (pondasi). Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Seorang Bapak bekerja dengan lelahnya harus rindu rumahnya, yang menjadi oase ketenangan. Anak pulang sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.
Lalu apa yang harus kita lakukan, agar rumah kita menjadi sumber ketenangan. Maka ada beberapa hal yang perlu diupayakan:
  • Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah. Dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
  • Seisi rumah baik Bapak, Ibu dan anak memiliki kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
  • Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu". Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
  • Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri", karena tidak ada orang yang paling aman dan dipercaya untuk mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebar tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.
  • Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.
Semoga, rumah kita semua menjadi keluarga yang sukses. Bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga sukses di akhirat kelak. Satu keluarga di dunia dan tetap satu keluarga nanti di akhirat. Amin.
*) KonsultAn Munakahat Ar Rahmah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More