Cover Majalah
Majalah "BINA UKHUWAH" terbit setiap bulan dalam upaya sosialisasi lembaga dan penokohan
Logo + Ketua Khoiru Ummah
Khoiru Ummah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam memberantas buta huruf Al Qur'an serta memfasilitasi upaya kaum muslimin dalam mentadaburi Al Qur'an
Logo + Ketua Ar Rahmah
Ar Rahmah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam dunia pendidikan. Sampai sekarang sudah mempunyai TK Islam Terpadu Ar Rahmah, SD Islam Terpadu Ar Rahmah dan SMP Islam Terpadu Ar Rahmah
Logo + Direktur DSUI
Griya Zakat LAZDA DSUI Pacitan adalah sebuah Lembaga Amil Zakat yang bergerak dalam bidang sosial. Siap memungut, mengelola dan mendistribusikan kepada yang berhak menerima.
Logo + Ketua BMT Tawakkal
BMT Tawakkal Pacitan adalah sebuah Koperasi Serba Usaha (KSU)Syari'ah yang bergerak dalam bidang ekonomi Syari'ah. Melayani Simpanan dan Pembiayaan Syari'ah serta Penerimaan, Pengelolaan dan Penyaluran ZISWAF.
Jumat, 22 Juli 2011
TA’RUF BUKAN PACARAN (Bagian Kedua)
Jumat, 06 Mei 2011
Ta’aruf Dengan Tim Kamar
oleh Subi M. Karto Raharjo*)
Sabtu, 16 April 2011
Keluarga Kunci Kesuksesan
Berbagai kejadian kita dengar bahkan lihat dengan mata kepala sendiri dalam masyarakat. Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di tempat kerja tapi akhirnya pudar oleh perilaku istri dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci. Sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, jangan sampai kita tertipu!
- Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan pekerjaan, urusan yang diluar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
- Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
- Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah. Dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
- Seisi rumah baik Bapak, Ibu dan anak memiliki kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
- Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu". Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
- Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri", karena tidak ada orang yang paling aman dan dipercaya untuk mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebar tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.
- Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.





