Bina Ukhuwah

Menjalin Kebersamaan Edisi 3 / 2011

Cover Majalah

Majalah "BINA UKHUWAH" terbit setiap bulan dalam upaya sosialisasi lembaga dan penokohan

Logo + Ketua Khoiru Ummah

Khoiru Ummah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam memberantas buta huruf Al Qur'an serta memfasilitasi upaya kaum muslimin dalam mentadaburi Al Qur'an

Logo + Ketua Ar Rahmah

Ar Rahmah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam dunia pendidikan. Sampai sekarang sudah mempunyai TK Islam Terpadu Ar Rahmah, SD Islam Terpadu Ar Rahmah dan SMP Islam Terpadu Ar Rahmah

Logo + Direktur DSUI

Griya Zakat LAZDA DSUI Pacitan adalah sebuah Lembaga Amil Zakat yang bergerak dalam bidang sosial. Siap memungut, mengelola dan mendistribusikan kepada yang berhak menerima.

Logo + Ketua BMT Tawakkal

BMT Tawakkal Pacitan adalah sebuah Koperasi Serba Usaha (KSU)Syari'ah yang bergerak dalam bidang ekonomi Syari'ah. Melayani Simpanan dan Pembiayaan Syari'ah serta Penerimaan, Pengelolaan dan Penyaluran ZISWAF.

Tampilkan postingan dengan label Az Zaad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Az Zaad. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

MENGGENDONG PEDHET

Seorang pesilat berbakat; baik, teknik, pukulan, tendangan, jurus tangkis, dan menghindar nyaris sempurna ia kuasai. Tetapi sayang, tidak satu pun kejuaraan ia peroleh, dikarenakan staminanya kedodoran.
Menyadari akan kelemahannya itu, ia berguru kepada pendekar ternama di negerinya. Sang guru tidak mengajarkan kepadanya ilmu apapun kecuali mewajibkan pesilat itu menggembala anak sapi (pedhet) selama satu tahun. Ia harus menggendong pedhet dari kandang hingga padang rumput yang letaknya lumayan jauh, P-P.
Apa yang terjadi, tanpa ia sadari dan rasakan stamina pesilat itu semakin prima dan kuat dari hari ke hari. Hal ini disebabkan ia sekarang tidak lagi menggendong pedhet melainkan sapi.
###
Masih seputar olahraga, pecinta bola basket pasti mengenal Michael Jordan, pemain terbaik dan produktif di NBA bahkan pernah masuk daftar sepuluh olaragawan terkaya di dunia. Suatu ketika ia diwawancarai oleh wartawan dari harian ternama di New York tentang perjalanannya. Terungkap dari ceritanya itu, ternyata dimasa kecil sampai remajanya kelabu, berasal dari keluarga miskin, menjadi anak jalanan serta pengedar narkotika.
Menyadari keterpurukannya karena salah jalan itulah, ia mulai membuka lembaran hidup baru. Salah satu kunci sukses yang ia miliki adalah tidak putus asa. ”I can accept failure, everyone fails at something, but I can’t accept no trying”, Kira-kira maksudnya, “saya dapat menerima kegagalan karena setiap orang pasti pernah mengalaminya. Tetapi saya tidak pernah menerima mereka yang tidak mau mencoba untuk bangkit”.
###
Sebut saja Bu Een, yang dulunya seorang mahasiswi Perguruan Tinggi Negeri ternama di Bandung, selain ia cerdas, ramah, juga geulis (cantik). Lulus kuliah langsung diterima menjadi PNS. Sebelum prajabatan, takdir ALLAH S.W.T menghendaki lain, beliau terpaksa berbaring di tempat tidur karena menderita rematik berat, se-centi-pun badannya tidak bisa digerakkan, punggungnya mengoreng serta berbau tak sedap. Sampai-sampai tubuhnya harus dibalut dengan ban-dalam vespa yang dilapisi kain halus.
Disaat derita-cobaan itu memuncak, muncullah kesadaran bahwa “Saya tidak boleh larut dalam kesedihan dan ketidakberdayaan terus-menerus, saya harus bangkit dan memberi manfaat kepada sesama, tidak hanya menyusahkan orang lain saja. Khoirunnasi man anfa’uhum linnasi, sebaik-baik manusia adalah yang punya manfaat lebih bagi orang lain’’.
 Beliau mendobrak semua belenggu kesedihan, keterbatasan, ketidak berdayaan, dengan memberikan kemanfaatan kepada anak-anak sekitar lingkungannya. Beliau membuka les gratis mulai dari baca-tulis hingga membaca al-Qur’an, gratis, walau ’hanya’ dengan berbaring serta alat peraganya mulut dan isyarat mata.
Subhanallah, sekarang keceriaan dan suka cita selalu hadir dari setiap kata yang keluar dari bibir dalam menyapa anak-anak didiknya. “Tiada kata capek jika segala aktivitas dilakukan dengan tulus ikhlas.” Tutur beliau kepada Mas Pepeng di TvOne.
###
Tiga fragmen kehidupan anak manusia diatas ada butir mutiara hikmah yang dapat kita ambil yaitu : bahwa cobaan hidup adalah tangga kehidupan yang mesti ditapaki untuk meraih kebahagiaan. Bagaimana pendapat Anda?
*) Direktur Griya Zakat DSUI

Jumat, 06 Mei 2011

INVESTASI ABADI


Oleh : Mukhlas Sofan Haji*)
 

Ketika saya menerima SMS dari mas Budi agar menyumbangkan tulisan di majalah yang sedang di tangan anda -Bina Ukhwah- dengan tema Investasi Masa Depan, pikiran saya melayang ke seorang tokoh yang menjadi rujukan investasi dunia, Robert T Kyosaki. Beliau mengatakan, “kemerdekaan finansial seseorang sangat ditentukan pada ketepatan dan kejeliannya dalam berinvestasi. Sehingga uang bekerja untuk tuannya, bukan dia bekerja untuk mendapatkan uang”. 
Dalam bahasa iman, orang yang kaya adalah orang yang memposisikan hartanya ditangan bukan dihatinya sehingga tidak menghalanginya berinvestasi demi masa depanya (akhirat) unlimited tanpa batas.
Jika kita buka sirah perjalanan hidup Rasulullah saw. bersama sahabat pasti akan kita dapati mutiara hikmah berinvestasi demi masa depan, salah satunya kisah diwaktu subuh usai Rasulullah saw. bersama sahabat shalat berjama’ah. Ketika lantunan doa-doa dan dzikir telah dipanjatkan, Rasulullah bertanya ‘’Siapa yang tidak hadir shalat subuh?’’para sahabat menjawab “Si fulan”. Lalu beliau bertanya, ”Siapa diantara kalian yang shalat malam?”.  
Serempak para sahabat menjawab, “kami semua telah melakukanya”. Sambung beliau, ”Siapa diantara kalian yang mengkhatamkan Al-Qur’an?,‘’ para sahabat mejawab “Kami”, kecuali sedikit diantara mereka.
Pertanyaan Rasulullah masih terus berlanjut sampai hanya beberapa orang yang sanggup mengancungkan tangan. “Siapa diantara kalian yang sebelum tidur keliling kampung untuk mencari saudaranya yang tidak bisa tidur karena kelaparan dan mengantarkan bahan makanan ke orang itu tanpa sepengetahuannya?” para sahabat tertunduk diam, tak seorangpun angkat tangan termasuk  Ali bin Abi Tholib, Usman bin Affan, Umar bin Khatthab kecuali Abu Bakar Ash Shidiq, ’’Saya ya Rasulallah.”
Gigi geraham Umar bin Khaththab gemelutuk keras, hatinya bergemuruh karena dikalahkan oleh Abu Bakar. Dia bersumpah atas nama Allah akan mengalahkan saudara tuanya -Abu Bakar Ash Shidiq- bila ada kesempatan. Ketika kesempatan itu tiba, saat Rasulullah menghimbau kaum muslimin agar berpartisipasi dalam ekspedisi Tabuk, Umar yakin pasti akan bisa mengalahkan Abu Bakar. Jika Usman bin Affan menginfakkan hartanya sepertiga dari seluruh kekayaannya maka Umar bin Khaththab menyerahkan separoh dari seluruh kekayaannya. Ia yakin pasti akan bisa mengungguli Abu Bakar. Untuk memastikannya, Umar tidak beranjak dari sisi Rasulullah menunngu kehadiran Abu Bakar yang akan berinvestasi untuk ekspedisi Tabuk.
“Hai…. Abu Bakar berapa hartamu yang akan engkau persembahkan untuk perjuangan ini?”, tanya Rasulullah. Abu Bakar dengan tulus ikhlas serta rendah hati menjawab, ”Mohon maaf  ya Rasulullah, tidak banyak yang bisa saya infakkan kecuali seluruh harta kekayaan saya”. Suasana menjadi hening semua sahabat yang hadir merasa bangga, malu, iri terhadap kedermawanan Abu Bakar sampai Umar berujar,”Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar.”
Mengapa mereka sangat antusias merelakan hartanya dijalan Allah? Karena sesungguhnya itulah investasi masa depan yang tak pernah merugi. Barang siapa yang meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipat-gandakan ganti kepadanya dengan banyak (QS. 2 : 245).
Bagaimana pendapat anda?
*) Direktur Griya Zakat DSUI

Jumat, 08 April 2011

Dahsyatnya Sedekah


Disarikan oleh Mukhlas Sofan Haji *)

Pembaca, ada sebuah pertanyaan yang menurut logika manusia sangat-sangat benar. Bagaimana mungkin seseorang yang bersedekah (mengeluarkan harta), ia akan mendapatkan rizki lebih banyak? Pertanyaan ini sangat wajar, kemudian dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah?
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata gunung pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita paham bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Kemudian apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas?
Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang wanita yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kursi-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua wanita itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.
Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafalkan dzikir.
Pembaca, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.
Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.
Dari pengalaman kongkrit kedua wanita ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.
Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).
Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.
Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.
Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.
Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat sangat mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Pembaca, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.
*) Direktur Griya Zakat LAZDA DSUI Pacitan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More