Bina Ukhuwah

Menjalin Kebersamaan Edisi 3 / 2011

Cover Majalah

Majalah "BINA UKHUWAH" terbit setiap bulan dalam upaya sosialisasi lembaga dan penokohan

Logo + Ketua Khoiru Ummah

Khoiru Ummah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam memberantas buta huruf Al Qur'an serta memfasilitasi upaya kaum muslimin dalam mentadaburi Al Qur'an

Logo + Ketua Ar Rahmah

Ar Rahmah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam dunia pendidikan. Sampai sekarang sudah mempunyai TK Islam Terpadu Ar Rahmah, SD Islam Terpadu Ar Rahmah dan SMP Islam Terpadu Ar Rahmah

Logo + Direktur DSUI

Griya Zakat LAZDA DSUI Pacitan adalah sebuah Lembaga Amil Zakat yang bergerak dalam bidang sosial. Siap memungut, mengelola dan mendistribusikan kepada yang berhak menerima.

Logo + Ketua BMT Tawakkal

BMT Tawakkal Pacitan adalah sebuah Koperasi Serba Usaha (KSU)Syari'ah yang bergerak dalam bidang ekonomi Syari'ah. Melayani Simpanan dan Pembiayaan Syari'ah serta Penerimaan, Pengelolaan dan Penyaluran ZISWAF.

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Qur'ani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Qur'ani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

UJIAN ITU PASTI ADA





Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
(QS. Al Ankabut 2)

Sudah menjadi sunnatullah, dalam hidup ini selalu ada dua sisi yang berpasangan, senang – susah; baik – buruk; cepat - lambat dan bermacam idiom yang lain. Masalah juga senantiasa datang silih berganti, menguji kita sebagai hamba. Dan dalam ujian tentunya ada yang lulus dan ada yang gagal.
Dalam torehan tinta sejarah, tidak ada orang besar yang muncul tiba-tiba, semua berproses. Thomas Alfa Edison sebelum berhasil dengan penemuan lampu pijarnya, telah diuji dengan hampir 1000 kali gagal, namun dia tidak patah semangat, tanpa proses try and error yang dia lakukan, mungkin sampai saat ini dunia masih gelap gulita saat malam hari.
Dalam sejarah dakwah Islam, kisah sukses para dai yang ditugaskan ke daerah-daerah asing, untuk mengenalkan Islam, pada awalnya juga tidak sedikit yang mengalami ujian hidup. Sebut saja Mus’ab bin Umair. Mus’ab adalah dai sejati, sahabat Rasulullah yang mulia ini awalnya adalah “anak mama”. Hidupnya selalu dalam kecukupan harta. Namun ketika hidayah Islam datang ke hatinya, maka Islam menjadi pilihannya. Sampai suatu hari Mus’ab melihat sang ibunda nampak pucat dan lesu, ternyata sang ibu telah bersumpah di hadapan berhala, bahwa tidak akan makan dan minum sampai Mus’ab meninggalkan Islam.
Dengan lembut tapi tegas Mus’ab berkata pada sang ibu, “Duhai Ibunda, andaikan ibunda mempunyai 100 nyawa, dan nyawa itu keluar satu demi satu, maka aku tetap tidak akan pernah meninggalkan Islam”. Pupus sudah usaha sang ibu, akhirnya Mus’ab diusir dari keluarga besarnya, segala fasilitas dihentikan, hilanglah sudah kemewahan dunia yang selama ini dinikmatinya, Mus’ab berkumpul dengan para sahabat yang kurang mampu, dan untuk memenuhi kebutuhannya, dia tidak malu untuk berjualan kayu bakar.
Sejenak mari kita tengok ujian yang dihadapi saudara kita di Palestina saat ini. Migrasi penduduk yahudi pada kurun tahun 1919 - 1929 sebanyak 100.000 orang, pada tahun 1958 mencapai 2 juta jiwa, dengan menempati wilayah 33% negara Palestina.  Konflik Israel – Palestina melebar menjadi konflik dengan negara Arab, sampai pada tahun 1982 terjadi insiden yang memilukan, pembantaian Sabra dan Shatila yang terjadi di wilayah Libanon dan Palestina yang menewaskan sekitar 100.000 orang. Sampai saat inipun jihad di bumi Palestina masih terus berlangsung, sebuah ujian yang sangat berat untuk mempertahankan tanah tumpah darah dari penjajah Yahudi laknatullah ‘alaih.
Belum hilang dari ingatan kita bersama, tragedi tsunami di bumi rencong, Banda Aceh, 26 Desember 2004 dengan korban hampir mencapai 105.000 jiwa. Aceh luluh lantak diterjang badai tsunami, korban jiwa dan harta tidak terhitung jumlahnya, banyak anak menjadi yatim, istri menjadi janda, suami menjadi duda. Sungguh pelajaran besar dari Allah bagi orang yang berakal.
Tidak lama berselang, Sabtu wage, 27 Mei 2006, jam 05.53 WIB selama 57 detik, Yogyakarta digoyang gempa bumi hebat berkekuatan 5,9 SR. Getaran terasa cukup kuat sampai Pacitan. Kerusakan sungguh dahsyat, rumah, sekolah dan bangunan lain di Bantul, kota Jogja, Sleman dan sebagian Klaten rata dengan tanah. Lebih dari 6.000 jiwa meninggal dunia dan 50.000 orang cidera, 86.000 rumah hancur, 283.000 rumah rusak (berat, sedang dan ringan)
Dua hari berselang, Senin Legi, 29 Mei 2006, semburan lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Kecamatan Porong Sidoarjo mulai menyembur dan perlahan tapi pasti menggenangi 16 desa di tiga kecamatan, dan sampai sekarang, semburan lumpur ini juga belum bisa dihentikan.
Masih banyak rentetan peristiwa yang menyajikan catatan kejadian, yang esensinya adalah menguji seberapa sabar dan kuat manusia menerimanya. Selain dalam bentuk musibah, ujian sebenarnya bisa juga dalam bentuk keberlimpahan nikmat. Banyak manusia yang bersabar diuji dengan kesempitan dan kekurangan, tapi pada saat diuji dengan nikmat harta, jabatan, kedudukan, istri, anak, fasilitas dan segala macam kesenangan, mereka menjadi lupa diri, lalai dari pengabdian kepada Sang Pemberi Nikmat. Firman Allah SWT :
”Dan tidaklah mereka (orang - orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS.9 :126)
”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (8 : 28)
 Ujian adalah proses menuju tingkatan makna hidup yang lebih tinggi. Ujian adalah tempaan yang menjadikan kita tangguh, tidak mudah mengeluh dan pastinya melatih SABAR. Mungkin saat orang lain terkena musibah, kita dengan mudah menghiburnya dengan mengatakan : sabar….sabar…ya tetapi sesungguhnya sabar itu tidak semudah pengucapannya. Dengan ujian inilah menjadi media untuk semakin bersabar, dan sabar tidak ada batasnya. Kita tidak boleh membatasi sifat sabar ini.
Sesungguhnya orang-orang yang sering mendapat ujian, dan dia bersabar, maka dia mendapatkan kualitas yang lebih dibanding orang yang jarang diuji. Sungguh mulia kedudukan orang mukmin, semua situasi baginya adalah kebaikan. Ketika diberi nikmat dia bersyukur, dan ketika ujian datang, dia bersabar. Dan kita harus yakin, bahwa Allah SWT tidak akan memberikan beban melebihi batas kemampuan kita untuk menyangganya.
Kita juga tidak akan bisa lari menghindar dari ujian, karena saat kita berlari menjauh dari satu ujian, tentu pada saat yang lain kita juga akan berhadapan dengan ujian lainnya. Lari dari ujian, sama dengan membuang kesempatan untuk mendapatkan poin menjadi pribadi yang lebih berkualitas.
Kisah terbentuknya mutiara dari seekor kerang yang lembek, bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Pada saat pasir tajam menembus tubuhnya yang lembek, sang kerang sangat kesakitan, namun dia bersabar. Dibalutnya pasir itu dengan getah yang ada ditubuhnya, sedikit demi sedikit, hingga bertahun-tahun sambil menahan rasa sakit. Tanpa dia sadari, kumpulan pasir yang berbalut getah tubuhnya itu kini semakin besar dan halus, ya dalam dagingnya terbentuklah mutiara.
Makin lama makin halus dan makin besar, rasa sakit semakin berkurang atau telah menjadi hal yang tidak dirasakan lagi, dan sampai akhirnya mutiara itu sempurna, utuh, mengkilap dan mahal harganya. Dia menjadi kerang yang lebih bernilai dibanding kerang lain yang mungkin hanya direbus dan dimakan. Sebuah kisah yang mencerahkan kita.
Kita memohon kepada Allah SWT, semoga saat ujian itu datang kita bisa bersabar menerimanya, sehingga kita layak dikatakan sebagai orang yang beriman.

Aquulu qouli hadza fastaghfirulloha lii wa lakum

*) Ketua Yayasan Khoiru Ummah

Jumat, 06 Mei 2011

INVESTASI GENERASI


Oleh : Erwin Hadi Kusuma*)


Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
(QS. An Nisa : 9)
Anak adalah permata hati, anak adalah penyejuk mata dan yang pasti anak adalah AMANAH yang dititipkan Allah SWT kepada kedua orang tua, yang menjadi wasilah proses kejadian sampai dengan persalinannya. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, tentunya akan berusaha sekuat tenaga, bahkan mempertaruhkan apa saja untuk menjaga amanah tersebut. Dalam sebuah hadits, Rosululloh Muhammad SAW telah memberikan nasihat yang tegas, bahwa keyakinan seorang anak adalah produk dari orang tuanya. Semua bayi lahir dalam keadaan FITROH (MUSLIM), maka orang tuanya-lah yang akan menjadikannya YAHUDI, MAJUSI atau NASRANI
Proses pendidikan di dalam rumah sampai dengan proses pemilihan tempat pendidikan oleh orang tualah yang akan membentuk keyakinan sang anak. Kalau ada pernyataan bahwa ada anak yang nakal, tidak punya sopan santun, tidak berakhlaq, yang patut dipertanyakan adalah : ANAK SIAPA ITU? SIAPA KEDUA ORANG TUANYA? BAGAIMANA CARA MENDIDIKNYA? DIMANA DI SEKOLAHKAN? Dan serentetan pertanyaan yang akan dialamatkan kepada orang tua, yang memang harus bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Anak adalah investasi, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Ya, anak adalah asset yang dapat memberikan keuntungan DUNIA AKHIRAT kalau orang tua atas ijin Allah SWT berhasil mendidik secara baik dan benar. Demikian pula sebaliknya, akan menjadi FITNAH dan MUSIBAH apabila orang tua lalai, teledor, dan tidak mempunyai perencanaan dalam merawat dan memelihara sang anak. Yang perlu dipahami, sebagai orang tua kita wajib berusaha untuk mendidik sebaik mungkin, menyekolahkan di tempat yang baik, menafkahi dengan cara yang halal dan toyyib, setelah semua proses kita lalui dengan ikhtiar maksimal, maka tawakkal harus menyertai upaya itu, artinya semua keputusan kembali kepada Allah SWT terhadap hasil usaha yang telah dilakukan orang tua.
Islam mengajarkan, dalam upaya membentuk generasi yang rabbani, generasi yang senantiasa berada dalam naungan ilahi, maka perencanaan harus dilakukan sejak sebelum proses pernikahan dilakukan. Maka kita kembali mengingat pesan Rasul mulia Muhammad SAW, bahwa wanita itu dinikahi karena empat (4) hal, kecantikan, nasab, harta dan agamanya, maka barangsiapa yang menikahi wanita atas dasar agamanya, maka Allah akan meridhoinya.
Bahasa rasul menempatkan wanita sebagai obyek dalam hadits ini, menjelaskan kepada kita, bahwa sesungguhnya pada wanitalah tempat benih itu disemai. Tentunya para muslimah juga berhak dan berkewajiban untuk memilih calon pasangannya, yang akan menaburkan benih pada dirinya, dengan calon yang memiliki akhlaq yang baik, pengetahuan dan pengamalan agama yang baik.
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa wanita shalehah atau laki-laki shaleh itu lahir karena adanya proses mendalami sekaligus menjalankan agama secara benar. Dari sini juga tampak bahwa agama betul-betul dasar pokok dalam memilih calon pasangan. Karena termasuk masalah pokok inilah, dalam hadits disebutkan, apabila ada laki-laki yang jelas-jelas shaleh dan beragama kuat hendak menikahi putri seseorang, maka nikahkanlah kepadanya karena kalau tidak, akan menyebabkan fitnah bagi putri tersebut.
Fenomena memprihatinkan sekarang ini adalah, betapa banyak kita jumpai tindakan maksiyat berupa perzinaaan yang menimpa generasi muda muslim. Ini menjadi masalah besar bagi kita, karena apabila proses pembuahan anak manusia dilakukan dengan cara yang melanggar aturan syar’i maka bagaimana kualitas produk yang dihasilkannya nanti. Apakah masih layak kita berharap banyak kepada generasi yang lahir dengan proses cacat seperti itu. Meskipun sebenarnya bayi yang lahir tidak membawa dosa warisan orang tuanya.
Layaknya sebuah investasi, Allah menuntun kita dalam usaha menanamkan benih di rahim. Sejak awal hubungan biologis orang-orang beriman dituntunkan untuk berdo’a. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithon wajanibnasy syaithona maa razaqtana.
Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda:
“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan ‘Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka sekiranya Dia mengaruniakan
seorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya “.
Sungguh sebuah amanah yang besar itu selayaknya pula dipersiapkan dengan tuntunan Allah. Tidak ada sebuah rencana bagi kita yang mengaku beriman ini tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan dan hajat kita. Program investasi generasi ini juga benar-benar akan menguji ketawakalan kita sebagai hamba. Bahwa kesenangan, harapan dan cita-cita mendapatkan anak yang sholeh, banyak dan sehat tentulah tidak cukup dengan persiapan dhohir dengan program-program makanan sehat, tips agar cepat mendapat keturunan, namun lebih dari itu.
Keyakinan bahwa Allah yang menjadikan benih itu tumbuh dirahim ibu-ibu, Allah yang melahirkannya, termasuk Allah yang memilihkan jenis kelamin anak-anak kita, atau bahkan menjadikan kita tak berputra, harus terus kita pelihara. Semua itu agar tidak ada harapan yang pupus ataupun percaya diri berlebihan yang melahirkan sikap berbangga. Termasuk berbangga dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh benar Allah berfirman dalam Q.S. Asy-Syura (42) : 49-50
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS.42 : 49)“ atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.(QS.42:50)
Sebagai catatan akhir mari kita kembali mengingat sabda Rasululloh SAW : apabila meninggal anak adam, maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga perkara, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan kepada orang tuanya.  Ada perbedaan pendapat dalam memaknai anak sholih dalam riwayat ini, apakah harus anak kandung ataukah tidak mesti anak kandung yang dalam pengasuhan orang yang meninggal tersebut. Tidak perlu kita menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat mengenai hal itu, tetapi yang pasti tanpa ada investasi generasi robbani, maka betapa susahnya orang tua yang meninggal, karena tidak ada untaian doa yang dipanjatkan sang buah hati bagi dirinya yang ada di alam barzakh.
Bisa jadi bukan si anak tidak mau mendoakan, tapi mungkin si anak tidak tahu, tidak bisa dan tidak paham karena dalam menjalani hidupnya dia tidak dididik untuk menjadi generasi sholih sholihah.
Kita berlindung kepada Allah SWT dari kekhilafan, kelemahan dan kekurangan dalam mendidik anak-anak kita, semoga hidayah Allah SWT senantiasa bersama kita, amiin
Wallohu a’lam bi showab
*) Ketua Yayasan Khoiru Ummah

Jumat, 08 April 2011

PROBLEMATIKA BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL QURAN

 
Oleh : Erwin Hadi Kusuma*)


Sudah menjadi takdir Allah, Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, namun tidak ada halangan dan alasan bagi umat Islam untuk tidak mengakuinya sebagai kitab suci, dan Allah SWT memberikan jaminan kemudahan untuk mempelajarinya, sebagaimana tercantum dalam QS. Az Zukhruf dan Al Qomar



Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).
(QS. Az Zukhruf : 3)

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al Qomar : 17)

Penjelasannya sebagai berikut :
a.         Huruf lam ( ل ) pada kata laqod ( لَقَدْ ) adalah untuk menunjukkan penegasan/penekanan (taukid). Bermakna sungguh.
b.        Kata setelah Qod ( قَدْ ) adalah yassarna ( يسرنا - telah Kami mudahkan; Allah Swt yang berkata) yang berbentuk fi'il madhi (past tense); juga bermakna penegasan. Bermakna sungguh.
c.         Kata yassarna - يسرنا berbentuk fi'il madhi, yang menunjukkan peristiwa yang telah terjadi.
d.        Pada surat Al Qamar, kalimat tersebut diulang sebanyak 4 kali (dengan susunan kalimat sama persis 100%) yaitu pada ayat 17,22,32,& 40, yang juga dapat bermakna penegasan.

Dari hal tersebut, jika diungkapkan dalam bentuk lain seakan-akan Allah Swt berkata :
"Wahai orang-orang beriman, Sungguh…sungguh….sungguh…sungguh…. telah Kami mudahkan Al Qurán untuk pelajaran (dipelajari)".
Apabila kita berbicara kepada seseorang dengan membuat penegasan seperti itu, tentu dalam rangka meyakinkan dan menunjukkan bahwa ucapan kita itu memang betul-betul seperti apa yang kita ucapkan.  Jaminan inilah yang semoga membuat kita menjadi optimis untuk semakin giat mempelajarinya, termasuk didalamnya mempelajari tata bahasa Arab.
Kondisi riil di masyarakat kita, masih kita temukan kendala dalam pembelajaran Al Quran ini. Ada kecenderungan saat ini bahwa sebagian banyak umat Islam, menempatkan pembelajaran Al Quran sebagai sesuatu yang tidak prioritas, sehingga terkesan asal anak-anak sudah diikutkan ngaji di lingkungan, TPQ atau masjid sekitar, sudah dianggap cukup. Padahal belajar Al Quran memerlukan kesungguhan, baik dalam hal waktu, metode dengan didukung sarana dan prasarana yang baik. Rasulullah SAW mengingatkan kita semua dengan sabdanya :

٨٧ – يَدْرُسُ اْلاِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَثْىُ الثَّوْبِ . حَتّٰٰى لاَيُدْرٰ مَاصِيَامُ وَلاَصَلاَةٌ وَلاَ نُسْكٌ وَلاَ صَدَقَةٌ ، وَلَيُسْرٰى عَلٰى كِتَبِ اللهِ عَزَّوَجَلَّ فِى لَيْلَةٍ فَلاَ يَبْقٰى فِى اْلاَرْضِ مِنْهُ اٰيَةٌ وَيَبْقٰى طَوَاءِفُ مِنَ النَّاسِ : اَشَّيْخُ الْكَبِيْرُ وَلْعَجُوْزُ ، يَقُالُوْنَ : اَدْرَكْنَا اٰبَاعَنَا عَلٰى هٰذِهِ الْكَلِمَةِ : ،، لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ فَنَحْنُ نَقُوْلُهَا .

“(Kelak) Islam akan mengalami kelunturan seperti lunturnya batik baju, sehingga tidak diketahui lagi apa itu shalat, puasa, ibadah dan sedekah. Dan Al-Qur’an sungguh akan dibawa pergi, sehingga tak ada satupun yang tersisa di muka bumi ini. Golongan manusia yang tersisa adalah Kakek dan Nenek. Mereka berkata: “Kami mendapatkan kalimat seperti ini dari nenek moyang kami : Laa Ilaaha Illallah, oleh karena itu kami mengucapkannya.”
Peringatan Rasulullah ini sangat tegas dan jelas, kalau kita tidak menyiapkan diri untuk membina diri pribadi, keluarga dan masyarakat untuk senantiasa belajar dan mengajarkan Al Quran, maka pasti akan datang masa, saat Al Quran menjadi tinggal namanya.

Problematika Pengajaran Al Quran
Dalam upaya memasyarakatkan Al Quran, saat ini muncul berbagai macam metode yang cukup membantu mempermudah proses belajar membaca Al Quran. Namun masalah secara umum yang ditemui dalam pengajaran Al Quran saat ini adalah :
1.    Mutu Pendidikan
Standar kualitas hasil belajar santri tidak sama. Dalam satu lembaga yang diajar oleh ustad yang sama, kualitas hasil belajar santri berbeda secara ekstrim, semestinya memang tidak bisa seragam 100%, namun jenjang yang terlalu jauh menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang dalam proses pembelajaran, baik itu dari unsur santri, ustadz, sarana, ataupun metode yang dipakai.
2.    Kualifikasi Ustadz Pengajar
Masalah :
Banyak dijumpai di lingkungan masyarakat kita, bahwa ratio guru ngaji dengan jumlah santri tidak seimbang. Jumlah guru ngaji lebih sedikit dibandingkan santri yang siap diajar, itupun dengan kualitas guru yang tidak merata, bahkan ditemukan ustadz yang bermodalkan NEKAT karena tidak adanya guru ngaji yang siap ngajar. Tidak jarang juga kita jumpai, orang yang bagus bacaan Al Quran-nya, tapi TIDAK BISA / TIDAK MAU / TIDAK SEMPAT mengajar Al quran, sementara ada yang semangat mengajar, tapi kemampuannya sangat terbatas.
Solusi :
Dilakukan Standarisasi bagi Guru Ngaji dengan mengikuti paket-paket pelatihan atau kursus terkait dengan pembelajaran Al Quran, seperti : strategi mengajar, pengenalan lagu / irama, Teknik BCM, Tahsin tilawah, Ghorib musykilat, dan Problem solving
3.    Lama Waktu Belajar Tidak Pasti
Masalah :
Model pembelajaran Al Quran di lingkungan kita, belum memiliki standar waktu yang jelas dalam mencapai target yang diinginkan. Seandainya ada orang tua santri yang bertanya kepada guru ngaji atau kepala TPA/TPQ, berapa lama yang dibutuhkan anak sejak belajar dari NOL sampai dengan HATAM Al quran, maka jawaban yang diberikan adalah TIDAK PASTI tergantung kemampuan anak. Padahal bukan itu jawaban yang diinginkan, orang tua santri ingin jawaban pasti, sehingga bisa membuat rencana jadwal bagi anaknya, kapan saatnya hatam Al Quran, kapan harus ikut kursus pengayaan, kapan harus ikut les tambahan / kegiatan ekstra.
Tidak jarang kita temukan, seorang anak yang rajin tiap hari belajar ngaji ke masjid, mushola atau TPQ sampai terbilang hitungan tahun, tapi hasilnya juga tidak jelas, dan problem terbanyak saat ini adalah banyak santri DROP OUT, belum tuntas belajar baca Al Quran, belum lancar membaca, bahkan jauh dari hatam 30 juz, karena tuntutan sekolah untuk les tambahan atau ekstra, sehingga aktivitas belajar Al Quran dinomor-sekiankan.
Solusi :
Cara umum untuk mengukur ketercapaian target adalah dengan membuat MATRIK PEMBELAJARAN dalam satuan harian, mingguan maupun bulanan. Selain itu lembaga juga harus memiliki KURIKULUM yang ditaati oleh semua unsur. Misalnya ditetapkan target, untuk belajar membaca sejak NOL sampai dengan hatam Al Quran, diperlukan waktu 3 tahun. Target tersebut didetailkan dalam bentuk matrik bulanan, mingguan dan harian, sehingga diperoleh pola yang sama dalam proses pengajaran harian, sehingga santri bisa selesai secara bersama-sama dengan indikator kelancaran diatas 70%.
4.    Metode Pembelajaran yang dipakai kurang / tidak dikuasai
Masalah :
Berkembangnya berbagi metode membaca Al Quran saat ini, memang memperkaya variasi proses belajar, namun apabila penggunaan metode yang dipilih oleh guru ngaji maupun lembaga, tidak mentaati standar yang disyaratkan oleh pembuat metode, maka sejak proses pembelajaran sampai dengan produk santri yang dihasilkan pasti tidak standar.
Kita juga temukan dalam satu lembaga TPQ, semua guru menggunakan metode yang sama, tapi dalam pengajarannya tidak seragam, masing-masing guru mempunyai pola sendiri-sendiri, sehingga ketika ada guru yang berhalangan (tidak hadir) dan santrinya dilimpahkan kepada guru lainnya, akan dijumpai ketidaknyamanan belajar akibat tidak adanya standararisasi guru terhadap metode yang dipakai.
Di hampir sebagian besar lembaga, metode yang dipilih saat ini belum bisa mendisiplinkan santri, sehingga terkesan suasana belajar santri menjadi gaduh, tidak teratur dan bahkan seperti liar, karena saat guru menyimak satu orang santri, santri lainnya yang jumlahnya belasan, tidak mendapatkan porsi perhatian yang sepadan, sehingga mereka melakukan aktivitas “sekedarnya”, seperti menggambar, menulis, dan tidak jarang yang bermain-main bahkan meninggalkan ruang belajar.
Solusi :
Dalam mengadopsi sebuah metode pembelajaran, semestinya tidak setengah hati, usahakan belajar langsung dari sumbernya, ikuti paket pelatihannya, taati rambu-rambunya, dan ajarkan sesuai dengan panduan, jangan sampai membuat tafsir sendiri terhadap metode orang / lembaga lain yang dipakai. Agar kualitas guru ngaji terjaga dengan baik, usakahan untuk mengikuti munaqosyah terhadap metode yang dipakai, sampai dinyatakan lulus dan bersyahadah.
5.    Pendanaan
Masalah :
Cara pandang masyarakat terhadap pembelajaran Al Quran selama ini adalah identik dengan ibadah tanpa biaya alias gratisan. Ini menjadikan proses pembelajaran menjadi tidak punya target kualitas hasil dan waktu yang pasti. Padahal disisi lain, sebagai orang tua pada saat mendaftarkan anak ke sekolah TK atau SD dengan biaya bulanan ratusan ribu, hampir tidak ada yang komplain. Namun apabila TPA / TPQ mengenakan biaya bulanan 10.000 SAJA, maka hampir semua orang tua santri akan protes, ini menjadi bukti bahwa orang tua menempatkan pendidikan Al Quran jauh dibawah kebutuhan sekolah umum. Padahal belajar Al Quran merupakan sebuah investasi dunia akhirat yang tidak akan pernah rugi.
Kebutuhan biaya di TPA / TPQ sebenarnya berpulang juga untuk kepentingan santri itu sendiri, seperti biaya buku, peraga, bangku, kapur tulis atau boardmarker, papan tulis. Ironisnya insentif atau gaji bagi guru ngaji tidak pernah terfikirkan, karena alasan ibadah. Semestinya peran mulia guru ngaji harus mendapatkan insentif yang jauh lebih banyak agar semakin menjaga keikhlasannya dalam mengajar.
Selain keberpihakan orang tua dalam pembelajaran Al Quran yang masih setengah hati, peran aghniya’, tokoh masyarakat, lembaga formal maupun non formal yang mengambil peran sebagai DONATUR TETAP dalam pembelajaran Al Quran nyaris belum ada dan belum ada yang mencoba me-manage secara profesional. Demikian pula perhatian pemerintah sebagai penyelenggara negara, masih sebatas perhatian formalitas yang belum menyentuh sisi kesejahteraan para guru ngaji, andaikan ada bantuan insentif, itupun munculnya baru setahun sekali dengan jumlah nominal yang jauh dari pantas.
Solusi :
Sudah saatnya kegiatan belajar mengajar Ngaji Quran dikelola secara rapi dan profesional, dengan melibatkan orang tua serta para donatur dalam mendukung lancarnya pengelolaan pembelajaran. Seandainya kesadaran dari orang tua dan para donatur segera ditumbuhkan untuk secara rutin membantu keuangan TPA / TPQ, maka problem klasik pendanaan akan dapat teratasi. Sarana prasarana akan semakin lengkap, pengetahuan guru akan meningkat dengan seringnya ikut pelatihan, adanya sistem gaji atau insentif yang akan semakin menambah keikhlasan mengajar
Beberapa hal di atas menjadi permasalahan klasik yang sudah nyata hadir di depan mata, dan tentunya kita harus menjadi bagian untuk memberikan solusinya, karena kita meyakini dengan sepenuh hati sabda Rasulullah SAW berikut :
Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya

Wallaohu a’lam

*) Ketua Yayasan Khoiru Ummah Pacitan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More