Bina Ukhuwah

Menjalin Kebersamaan Edisi 3 / 2011

Cover Majalah

Majalah "BINA UKHUWAH" terbit setiap bulan dalam upaya sosialisasi lembaga dan penokohan

Logo + Ketua Khoiru Ummah

Khoiru Ummah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam memberantas buta huruf Al Qur'an serta memfasilitasi upaya kaum muslimin dalam mentadaburi Al Qur'an

Logo + Ketua Ar Rahmah

Ar Rahmah Pacitan adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam dunia pendidikan. Sampai sekarang sudah mempunyai TK Islam Terpadu Ar Rahmah, SD Islam Terpadu Ar Rahmah dan SMP Islam Terpadu Ar Rahmah

Logo + Direktur DSUI

Griya Zakat LAZDA DSUI Pacitan adalah sebuah Lembaga Amil Zakat yang bergerak dalam bidang sosial. Siap memungut, mengelola dan mendistribusikan kepada yang berhak menerima.

Logo + Ketua BMT Tawakkal

BMT Tawakkal Pacitan adalah sebuah Koperasi Serba Usaha (KSU)Syari'ah yang bergerak dalam bidang ekonomi Syari'ah. Melayani Simpanan dan Pembiayaan Syari'ah serta Penerimaan, Pengelolaan dan Penyaluran ZISWAF.

Jumat, 22 Juli 2011

Mengatasi Masalah Keuangan Keluarga (Konsep Dasar manajemen Keuangan Keluaraga)

Keluhan kita kuli gajian adalah susahnya menabung. Boro-boro menabung, untuk kebutuhan rutin saja sering kedodoran. Dulu waktu gaji masih Rp 2 juta kita berfikir kalau gajinya sudah Rp 5 juta pasti bisa nabung. Begitu seterusnya begitu gaji bertambah banyak ternyata tetep saja tidak bisa menabung.
Hal yang sama juga kita alami untuk membayar Zakat. Berapapun tingkat penghasilan kita, kalau kita berfikir jika ada sisa barulah membayar zakat maka sampai kapanpun akan susah untuk membayar zakat.
Menurut Ahmad Gozali, seorang pakar perencanaan keuangan, yang perlu diubah adalah mindset dalam mengelola keuangan. Dari fokus menyisakan uang ke fokus menghabiskan uang secara bertanggug jawab.
Tahapan dalam mengelola keuangan adalah dengan membuat prioritas pengeluaran yaitu dengan melihat faktor risiko (tinggi, menengah, rendah) dan fleksibilitas. Sedangkan kata kuncinya adalah Qona'ah (sikap merasa cukup, ridho dan merasa puas atas rejeki dari Alloh swt setelah berusaha keras) dengan dilfilter halalan toyyibah.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. [Al Quran Surat Al Baqoroh :168]

Prioritas : 
1. Hak Alloh swt.
Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Alloh swt, kita harus menunaikan pembayaran Hak Alloh swt atas harta/penghasilan kita. Hak Alloh swt atas harta kita bisa berupa zakat, infaq dan sedekah. Besarannya minimal sekitar 2.5% dari penghasilan kita. Bayarlah sesegera mungkin setelah kita memperoleh penghasilan. Jika ini sudah kita tunaikan insya Alloh harta yang kita peroleh semakin banyak dan berkah bagi semuanya.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui. [Al Qur'an surat Al Baqoroh :261] 

2. Hak Orang Lain
Pengeluaran ini sifatnya juga fix dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, Anda harus segera membayar hutang ataupun cicilan hutang yang sudah jatuh tempo setelah menerima penghasilan. Cicilan seperti KPR, kendaraan, kartu kredit, dan lainnya perlu dilunasi karena jika tidak segera dilunasi maka akan berakibat kena denda, pinalti dan tambahan biaya yang lebih tinggi. Apalagi kalau masuk kategori kredit macet.  Dan lebih lagi ada faktor psikologis seperti malu baik diri sendiri keluarga terhadap lingkungan sekitar.

Amru bin Syarid : Muhammad SAW: “ Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu itu suatu kedzaliman yang menghalalkan kehormatan dan penyiksaannya” [HR. Lima ahli hadits, kecuali Tirmidzi]
 
Berapakah porsi yang "aman" untuk cicilan hutang dll, sebagian orang berpendapat maksimal adalah sepertiga (35%) dari penghasilan kita. Pada saat mau melakukan pengajuan pinjaman, kita perlu memperhitungkan agar cicilan kita tidak melebihi angka aman.

3. Hak Masa Depan
Menabung, berinvestasi, dan membeli asuransi adalah sejumlah bentuk kebutuhan masa depan yang harus dialokasikan dari penghasilan bulanan. Kebutuhan ini menjadi penting karena kondisi keuangan selalu dinamis. Apalagi bagi karyawan, di mana ketahanan gaji memungkinkan untuk naik, turun, atau bahkan tak berpenghasilan alias kehilangan pekerjaan (PHK misalnya). Sifat dari pengeluaran ini fix dan berisiko tinggi. Porsi pengeluaran ini berkisar sekitar 10% dari penghasilan kita.

Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. [HR Muslim & Ahmad]

4. Hak Masa Kini
Setelah memenuhi kewajiban atas tiga hal di atas, sisa penghasilan  (40%-60%) yang kita peroleh dapat digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan rutin bulanan, seperti sembako, listrik/air, uang sekolah anak, iuran lingkungan/keamanan, termasuk yang terkait hobi seperti membeli buku, menonton film, atau pengeluaran lain (yang sifatnya keinginan).

Sebesar apa pun penghasilan kita, akan habis juga. Tetapi jika kita sudah mengatur sesuai pola di atas insya Alloh kita tidak akan menyesal.

*) Ketua KSUS BMT Tawakkal

TA’RUF BUKAN PACARAN (Bagian Kedua)


Tahap ke tiga diatas adalah tahap kritis pertama. Karena bertemunya lawan jenis yang sejak awal berniat bertemu, sudah ada panah asmara dalam diri kedua belah pihak. Jika panah asmara yang sama-sama sudah berada di busur dengan tali lontarnya sudah kencang ini tidak diolah (dijaga) bisa jadi sang “anak panah” asmara terlontar liar salah sasaran. Karenanya kami me-manage forum ta’aruf ini dengan istilah pertemuan delapan mata. Masing-masing diri didampingi oleh seorang ustad/ustadzah dalam berdialog lepas diantara mereka berdua.
Dalam dialog terbimbing ini mereka dipersilahkan berbicara apa saja menyangkut penajaman dan akurasi data tertulis yang sudah dibaca waktu pemberian data calon suami ke calon isteri dan sebaliknya. Data itu sudah diterima minimal tujuh hari dari waktu ta’ruf, dengan tambahan tugas robbani bagi keduanya. Tugas robbani ini adalah sholat istiharah. Meski ibadah ini hukumnya sunah, tim kamar menganjurkan kepada kedua calon mempelai untuk mengintensifkan pelaksanaannya selama satu pekan penuh.
Penekanan sholat istiharah ini seakan disemiwajibkan semata-mata untuk membingkai proses ta’aruf ini, agar tetap dalam jalan lurus dan mengeliminasi unsur-unsur eksternal (pengaruh syaiton). Agar proses tarbawi ini tidak terkontaminasi oleh pengaruh syahwat syaitoniyah. Meski tidak dipungkiri bahwa jurus dan pintu masuk syaiton ke dalam diri manusia dalam menggoda bisa masuk melalui pintu apa saja, tetapi secara keilmuan dan bingkai sunnah kita sudah mengikhtiari untuk mencegahnya.
Tim sangat menyadari banyak sisi lemah dalam ta’aruf ini, apa lagi sekarang IT sudah sebegitu menggurita, menguasai jagat komunikasi dunia. Termasuk dunia asmara, akan tetapi ikhtiar manusiawi ini tetap kita perlukan untuk memastikan bahwa proses ini alami. Berjalan sesuai tahapan sang calon mempelai yang belum 100% pasti ini masih punya ruang dan waktu. Untuk berfikir dan bertindak serta mengambil keputusan dilandasi dengan ketulusan hati, keikhlasan menerima takdir dan kealamiah-an dalam menentukan pilihan untuk selanjutnya masing-masing mengomunikasikan seluruh proses hati dan jasadiyah ini kepada orang tua masing-masing. Nah pada tahapan ini tim mempersilakan mereka berdua untuk mempersiapkan diri pada tahapan ke empat, yaitu ta’aruf calon laki-laki kepada orang tua calon perempuan, dan proses ta’ruf fihak perempuan kepada orang tua laki-laki..
(bersambung edisi mendatang...)
*) Dewan Pembina Tim Kamar

Jumat, 06 Mei 2011

INVESTASI GENERASI


Oleh : Erwin Hadi Kusuma*)


Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
(QS. An Nisa : 9)
Anak adalah permata hati, anak adalah penyejuk mata dan yang pasti anak adalah AMANAH yang dititipkan Allah SWT kepada kedua orang tua, yang menjadi wasilah proses kejadian sampai dengan persalinannya. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, tentunya akan berusaha sekuat tenaga, bahkan mempertaruhkan apa saja untuk menjaga amanah tersebut. Dalam sebuah hadits, Rosululloh Muhammad SAW telah memberikan nasihat yang tegas, bahwa keyakinan seorang anak adalah produk dari orang tuanya. Semua bayi lahir dalam keadaan FITROH (MUSLIM), maka orang tuanya-lah yang akan menjadikannya YAHUDI, MAJUSI atau NASRANI
Proses pendidikan di dalam rumah sampai dengan proses pemilihan tempat pendidikan oleh orang tualah yang akan membentuk keyakinan sang anak. Kalau ada pernyataan bahwa ada anak yang nakal, tidak punya sopan santun, tidak berakhlaq, yang patut dipertanyakan adalah : ANAK SIAPA ITU? SIAPA KEDUA ORANG TUANYA? BAGAIMANA CARA MENDIDIKNYA? DIMANA DI SEKOLAHKAN? Dan serentetan pertanyaan yang akan dialamatkan kepada orang tua, yang memang harus bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Anak adalah investasi, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Ya, anak adalah asset yang dapat memberikan keuntungan DUNIA AKHIRAT kalau orang tua atas ijin Allah SWT berhasil mendidik secara baik dan benar. Demikian pula sebaliknya, akan menjadi FITNAH dan MUSIBAH apabila orang tua lalai, teledor, dan tidak mempunyai perencanaan dalam merawat dan memelihara sang anak. Yang perlu dipahami, sebagai orang tua kita wajib berusaha untuk mendidik sebaik mungkin, menyekolahkan di tempat yang baik, menafkahi dengan cara yang halal dan toyyib, setelah semua proses kita lalui dengan ikhtiar maksimal, maka tawakkal harus menyertai upaya itu, artinya semua keputusan kembali kepada Allah SWT terhadap hasil usaha yang telah dilakukan orang tua.
Islam mengajarkan, dalam upaya membentuk generasi yang rabbani, generasi yang senantiasa berada dalam naungan ilahi, maka perencanaan harus dilakukan sejak sebelum proses pernikahan dilakukan. Maka kita kembali mengingat pesan Rasul mulia Muhammad SAW, bahwa wanita itu dinikahi karena empat (4) hal, kecantikan, nasab, harta dan agamanya, maka barangsiapa yang menikahi wanita atas dasar agamanya, maka Allah akan meridhoinya.
Bahasa rasul menempatkan wanita sebagai obyek dalam hadits ini, menjelaskan kepada kita, bahwa sesungguhnya pada wanitalah tempat benih itu disemai. Tentunya para muslimah juga berhak dan berkewajiban untuk memilih calon pasangannya, yang akan menaburkan benih pada dirinya, dengan calon yang memiliki akhlaq yang baik, pengetahuan dan pengamalan agama yang baik.
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa wanita shalehah atau laki-laki shaleh itu lahir karena adanya proses mendalami sekaligus menjalankan agama secara benar. Dari sini juga tampak bahwa agama betul-betul dasar pokok dalam memilih calon pasangan. Karena termasuk masalah pokok inilah, dalam hadits disebutkan, apabila ada laki-laki yang jelas-jelas shaleh dan beragama kuat hendak menikahi putri seseorang, maka nikahkanlah kepadanya karena kalau tidak, akan menyebabkan fitnah bagi putri tersebut.
Fenomena memprihatinkan sekarang ini adalah, betapa banyak kita jumpai tindakan maksiyat berupa perzinaaan yang menimpa generasi muda muslim. Ini menjadi masalah besar bagi kita, karena apabila proses pembuahan anak manusia dilakukan dengan cara yang melanggar aturan syar’i maka bagaimana kualitas produk yang dihasilkannya nanti. Apakah masih layak kita berharap banyak kepada generasi yang lahir dengan proses cacat seperti itu. Meskipun sebenarnya bayi yang lahir tidak membawa dosa warisan orang tuanya.
Layaknya sebuah investasi, Allah menuntun kita dalam usaha menanamkan benih di rahim. Sejak awal hubungan biologis orang-orang beriman dituntunkan untuk berdo’a. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithon wajanibnasy syaithona maa razaqtana.
Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda:
“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan ‘Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka sekiranya Dia mengaruniakan
seorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya “.
Sungguh sebuah amanah yang besar itu selayaknya pula dipersiapkan dengan tuntunan Allah. Tidak ada sebuah rencana bagi kita yang mengaku beriman ini tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan dan hajat kita. Program investasi generasi ini juga benar-benar akan menguji ketawakalan kita sebagai hamba. Bahwa kesenangan, harapan dan cita-cita mendapatkan anak yang sholeh, banyak dan sehat tentulah tidak cukup dengan persiapan dhohir dengan program-program makanan sehat, tips agar cepat mendapat keturunan, namun lebih dari itu.
Keyakinan bahwa Allah yang menjadikan benih itu tumbuh dirahim ibu-ibu, Allah yang melahirkannya, termasuk Allah yang memilihkan jenis kelamin anak-anak kita, atau bahkan menjadikan kita tak berputra, harus terus kita pelihara. Semua itu agar tidak ada harapan yang pupus ataupun percaya diri berlebihan yang melahirkan sikap berbangga. Termasuk berbangga dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh benar Allah berfirman dalam Q.S. Asy-Syura (42) : 49-50
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS.42 : 49)“ atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.(QS.42:50)
Sebagai catatan akhir mari kita kembali mengingat sabda Rasululloh SAW : apabila meninggal anak adam, maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga perkara, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan kepada orang tuanya.  Ada perbedaan pendapat dalam memaknai anak sholih dalam riwayat ini, apakah harus anak kandung ataukah tidak mesti anak kandung yang dalam pengasuhan orang yang meninggal tersebut. Tidak perlu kita menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat mengenai hal itu, tetapi yang pasti tanpa ada investasi generasi robbani, maka betapa susahnya orang tua yang meninggal, karena tidak ada untaian doa yang dipanjatkan sang buah hati bagi dirinya yang ada di alam barzakh.
Bisa jadi bukan si anak tidak mau mendoakan, tapi mungkin si anak tidak tahu, tidak bisa dan tidak paham karena dalam menjalani hidupnya dia tidak dididik untuk menjadi generasi sholih sholihah.
Kita berlindung kepada Allah SWT dari kekhilafan, kelemahan dan kekurangan dalam mendidik anak-anak kita, semoga hidayah Allah SWT senantiasa bersama kita, amiin
Wallohu a’lam bi showab
*) Ketua Yayasan Khoiru Ummah

BELAJAR DARI BRIPTU NORMAN


Oleh : Sukatno Abdullah*)

Briptu Norman mendadak menjadi buah bibir masyarakat indonesia dengan munculnya video youtube berjudul video polisi gorontalo menggila. Banyak orang mendukung briptu Norman terkait video polisi gorontalo menggila, karena niatnya murni hanya menghibur. Briptu Norman Kamaru seorang polisi yang menyanyikan lagu Chaiya-chaiya secara lip sync langsung menjadi terkenal, dengan banyak tweeps yang mendukung dirinya agar tidak dihukum oleh atasannya. Dalam waktu singkat namanya menjadi sangat terkenal di dunia maya bahkan di dunia nyata.
Penulis tidak bermaksud ikut latah membahas berita ini, namun hanya terinpirasi membuat sebuah perenungan. Begitu dahsyatnya era informasi sehingga seseorang sangat mudah dikenal dalam waktu yang relative singkat. Informasi membawa manusia melewati batas-batas  ruang dan waktu. Dunia begitu dekat, apa yang terjadi di belahan bumi manapun, kita dapat menge-tahuinya. Kita sering kaget, kejadian di Pacitan justru lebih dahulu diketahui dari Jakarta dan tempat lainnya. Berita sering kita dapatkan lebih cepat lewat televisi padahal bisa jadi kejadian itu dekat rumah kita. Demikian perkembangan informasi telah mendekatkan segalanya ke kita.
Alfin Tofler seorang Futurolog di era awal 80-an menulis sebuah buku “Kejutan Gelombang“ yang membagi peradaban dunia menjadi tiga tingkatan yaitu peradaban pertanian, peradaban industri dan peradaban informasi. Apa yang ditulisnya, saat ini menjadi kenyataan . Dunia tanpa sekat dan batas, kapan saja kita dapat mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia. Peradaban informasi bukan hanya berpengaruh positif yang dapat mendinamisasi dunia atau sekedar menghibur, namun juga banyak dampak negatifnya yang perlu diperhatikan oleh para orang tua.
Collin Cherry mengungkapkan perkembangan teknologi komunikasi yang cepat dewasa ini dengan istilah explosion. Hal ini disebabkan, Pertama, secara potensial teknologi komunikasi menjangkau seluruh permukaan bumi hanya dalam tempo sekejap. Kedua, jumlah pesan dan arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik. Untuk dua dekade belakangan ini saja, jumlah kontak komunikasi global yang ada diperkirakan sama banyak dengan komunikasi serupa selama beberapa abad lalu. Ketiga, kompleksitas teknologinya sendiri semakin canggih (sophisticated), baik piranti lunak maupun piranti kerasnya.
Inspirasi dari Briptu Norman adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan perkembangan informasi dan tekhnologi sebagai sesuatu yang positif dan bermanfaat. Kita bisa memanfaatkan informasi menjadi sebuah sarana positif untuk mengembangkan potensi diri. Ternyata dengan potensi yang kita miliki dan momentum yang tepat, berkat informasi menjadi sebuah konsumsi publik yang baik.
Sehingga banyak orang memanfaatkan informasi sebagai sesuatu yang menguntungkan, misalnya untuk bisnis, menginformasikan program bahkan dalam politik hampir pasti yang menguasai informasi adalah sebagai pemenang.
Berikut penulis uraikan beberapa hal penting menyikapi dahsyatnya perkembangan informasi. Sebagai orang tua atau guru bagi generasi di era global,  yang akan hidup di sebuah jaman yang berbeda dengan jaman kita. Kalau kita hanya membekali mereka untuk bisa hidup di jaman sekarang tentu anak-anak kita tidak akan siap menghadapi kehidupannya kelak. Maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Penanaman Keimanan. Sedini mungkin anak-anak kita bekali dengan sebuah landasan ideologi yang kuat berupa keimanan yang mendalam. Internalisasi nilai keimanan pada diri anak kita harus tertanam mendalam di sanubari mereka sehingga dapat menjadi kekuatan yang hebat walaupun badai tantangan global menerpa mereka. Banyak pelajaran dari Al quran yang memberi keteladanan sebagaimana kisah Lukman yang mendidik dan menanamkan aqidah yang kuat kepada anaknya.
2. Pembentukan Karakter Asasi. John Naisbit dan Istrinya Patricia Abdurdene pada awal tahun 90-an menulis buku “ Megatrend 2000” yang intinya hampir sama bahwa akan datang sebuah era yang disebut dengan peradaban informasi. Dia mengatakan secara bersamaan akan bangkit agama-agama. Hal ini karena orang memiliki kesadaran bahwa agama yang sanggup membentengi pengaruh-pengaruh negatif dari berkembangnya informasi. Maka sejak kecil kita harus membentuk karakter anak kita mempunyai karakter asasi yaitu sebuah karakter yang mampu menjadi benteng terhadap pengaruh buruk di jamannya.
3. Melatih Anak Memanfaatkan Informasi. Menanamkan perilaku produktif pada anak dengan memanfaatkanmya untuk kepentingan positif. Misalnya anak menggunakan internet, kita membekali mereka untuk memanfaatkan kearah positif. Semantara ini kita masih menjadi pengguna (komsumstif) informasi dan tehnologi. Kita hanya mengambil, mengunduh, browsing, mencari berita dan informasi, bahkan menjadi penikmat di akun-akun jejaring sosial lebih banyak mengeluarkan uang. Kita membekali anak agar dalam internet kita lebih banyak menjadi subyek (produktif) dari pada obyek (komsumtif).
Orang tua sering dipusingkan anaknya yang gandrung dengan internet, bahkan menjadi sindrom/ketergantungan. Maka mulailah sekarang, menyiapkan anak agar mampu memanfaatkan tehnologi informasi sebagai suatu yang positif.
4. Menanamkan Muroqobah. Muroqobah adalah bentuk karakter paripurna dimana anak merasa selalu dalam pengawasan Allah SWT. Kalau perasaan ini sudah tertanam dalam diri anak maka dia akan mampu memilih suatu yang baik dan buruk. Karena anak tidak mungkin kita jauhkan dari tehnologi dan informasi. Maka solusi yang paling tepat bukan menjauhkan mereka dari itu tapi lebih banyak membekali mereka. Ini bukan pekerjaan mudah tetapi perlu istiqomah untuk merealisasikannya.
Dengan bekal keimanan yang mantap ditambah bekal ilmu pengetahuan kepada anak-anak kita maka InsyaAllah kita akan mendapati mereka sebagai sebuah generasi yang unggul yang memimpin peradaban di jamannya.
*) Ketua Yayasan Ar Rahmah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More